NIAT MENULIS
"Tulisan dengan niat tulus akan tetap hidup, bahkan ketika penulisnya telah tiada."
fathani.com. – Menulis adalah bagian dari proses berpikir. Setiap kata yang kita torehkan tidak lahir begitu saja, melainkan berangkat dari niat yang melatarbelakanginya. Dalam Islam, Rasulullah SAW telah mengingatkan: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Maka, menulis pun sejatinya bukan hanya kegiatan teknis, tetapi sebuah amal yang kualitasnya ditentukan oleh niat penulisnya.
Filosofi kehidupan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas oleh waktu dan ingatan. Kita mudah lupa, pengalaman berharga bisa hilang, bahkan gagasan besar bisa lenyap bila tidak diikat. Di sinilah menulis menjadi ikhtiar melawan kefanaan. Namun, tulisan hanya akan berumur panjang bila ditopang oleh niat yang benar. Tulisan yang lahir dari niat tulus akan melintasi generasi, sementara tulisan yang hanya lahir dari ambisi pribadi akan cepat dilupakan.
Perspektif Islam memandang menulis sebagai bagian dari menjaga dan menyebarkan ilmu. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Menulis dengan niat yang lurus menjadikan pena sebagai pengikat ilmu agar tidak hilang. Bahkan Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Ilmu lebih baik daripada harta, sebab ilmu menjagamu, sedangkan engkau yang menjaga harta.” Dengan niat menulis yang benar, ilmu bukan hanya disimpan dalam kepala, tetapi diwariskan melalui kata.
Niat menulis juga mengandung dimensi etis. Menulis dengan hati yang jernih berarti menulis untuk memberi manfaat, bukan menebar kebencian; menulis untuk menyalakan harapan, bukan memperdalam luka. Kata-kata yang kita pilih bisa menjadi penggerak kebaikan, tetapi juga bisa menjadi sumber kerusakan. Karena itu, menata niat menulis adalah latihan moral agar tulisan yang lahir benar-benar menjadi cahaya, bukan api yang membakar.
Wahyu pertama dalam Islam dimulai dengan perintah Iqra’ “bacalah”. Membaca dan menulis adalah dua mata rantai yang tak terpisahkan. Membaca membuka cakrawala, menulis mengikatnya agar tidak hilang. Jika membaca adalah proses menyerap ilmu, maka menulis dengan niat yang lurus adalah proses menghidupkan ilmu. Dengan begitu, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Alhasil, niat menulis adalah inti dari setiap karya. Bila niatnya benar, menulis menjadi ibadah intelektual: menyusun kata sekaligus menyusun makna hidup. Setiap kalimat yang ditorehkan dengan niat tulus akan menjadi saksi bahwa penulis pernah hadir, berpikir, dan peduli. Dan bila niat itu lurus, tulisan akan tetap hidup, bahkan ketika penulisnya telah tiada.[ahf]
Posting Komentar untuk "NIAT MENULIS"
Posting Komentar