AMANAH MAHASISWA
“Menjadi mahasiswa bukan sekadar status, melainkan kepercayaan yang harus dijaga.”
fathani.com. – Menjadi mahasiswa sering dipahami sebagai fase mencari ilmu. Padahal, pada saat yang sama, mahasiswa sedang menerima amanah. Amanah itu tidak selalu tertulis, tidak juga selalu disadari, tetapi nyata dalam setiap peran yang dijalani.
Amanah pertama adalah kesempatan. Tidak semua orang diberi ruang untuk belajar di perguruan tinggi. Ketika seseorang resmi menjadi mahasiswa, ia sedang memegang kepercayaan—dari orang tua, dari masyarakat, dan dari institusi pendidikan—bahwa waktu, energi, dan fasilitas yang diterimanya akan digunakan untuk bertumbuh.
Amanah berikutnya adalah proses. Mahasiswa tidak hanya dituntut hadir secara fisik di ruang kuliah, tetapi juga hadir secara batin dalam proses belajar. Datang, duduk, dan pulang tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana cara berpikir dibentuk, sikap dikembangkan, dan tanggung jawab dilatih. Proses ini sering sunyi, tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan.
Ketika mahasiswa menerima beasiswa, amanah itu menjadi berlapis. Bukan hanya amanah untuk belajar, tetapi juga amanah untuk menjaga kepercayaan. Beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan pengakuan atas potensi. Ia menuntut kesungguhan, bukan sekadar kelulusan administratif.
Begitu pula ketika mahasiswa memilih aktif di organisasi, UKM, atau kepanitiaan. Aktivitas itu bukan sekadar mengisi waktu luang atau mengejar sertifikat. Di sana ada amanah untuk menepati janji, menyelesaikan tugas, dan belajar bekerja bersama orang lain. Banyak mahasiswa belajar tentang kejujuran, disiplin, dan kepemimpinan justru dari dinamika organisasi, bukan dari buku teks.
Masalahnya, amanah sering terasa berat ketika dipahami sebagai beban. Padahal amanah sejatinya adalah ruang latihan. Melalui amanah, mahasiswa belajar mengenali batas dirinya, mengatur prioritas, dan mengambil keputusan. Tidak semua amanah harus diterima, tetapi setiap amanah yang diambil harus dijalani dengan tanggung jawab.
Mahasiswa hari ini hidup di tengah banyak pilihan. Kegiatan beragam, kesempatan terbuka, tawaran datang silih berganti. Di sinilah amanah berpindah bentuk: dari sekadar menjalankan tugas menjadi kemampuan memilih dengan sadar. Mengambil sedikit peran, tetapi dijalani dengan sungguh-sungguh, akan lebih bermakna daripada mengambil banyak peran tanpa kehadiran utuh.
Amanah mahasiswa pada akhirnya bukan tentang seberapa sibuk, tetapi seberapa bertanggung jawab. Bukan tentang seberapa menonjol, tetapi seberapa jujur pada proses. Kampus hanya menyediakan ruang; mahasiswa sendirilah yang menentukan apakah ruang itu menjadi tempat bertumbuh atau sekadar tempat singgah.
Di sanalah pendidikan bekerja secara diam-diam. Amanah tidak selalu menghasilkan pujian, tetapi selalu meninggalkan jejak. Dan mahasiswa yang mampu menjaga amanahnya, sedang menyiapkan dirinya untuk peran-peran yang lebih besar setelah kelak meninggalkan kampus.[ahf]

Posting Komentar untuk "AMANAH MAHASISWA"
Posting Komentar