ARAH BELAJAR
“Belajar akan tumbuh ketika seseorang memahami arah yang sedang ia tempuh.”
fathani.com. – Tidak semua mahasiswa Pendidikan Matematika memasuki perkuliahan dengan keyakinan diri yang kuat. Sebagian justru datang dengan pengalaman belajar yang kurang menyenangkan, rasa minder, dan ketakutan terhadap matematika. Pengalaman masa lalu tersebut membentuk sikap defensif terhadap mata kuliah yang dianggap sulit sejak awal.
Sebut saja, misalnya Mahasiswa X yang termasuk dalam kelompok ini. Ia memilih Program Studi Pendidikan Matematika bukan karena ketertarikan yang kuat, melainkan karena pertimbangan rasional, salah satunya bisa jadi, karena adanya peluang besar untuk memperoleh beasiswa. Keputusan itu diambil dengan kesadaran bahwa ia harus menempuh bidang studi yang sebelumnya tidak ia yakini sebagai kekuatannya.
Pada semester pertama, proses perkuliahan dijalani dengan kondisi yang belum stabil. Rasa takut terhadap mata kuliah bermuatan matematika masih kuat. Kepercayaan diri belum terbentuk, dan motivasi belajar lebih berorientasi pada bertahan, bukan bertumbuh. Fokus utama Mahasiswa X adalah mengikuti perkuliahan tanpa banyak keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.
Perubahan mulai tampak ketika Mahasiswa X mengikuti matakuliah yang saya ampu: Filsafat Pendidikan Matematika. Matakuliah ini tidak langsung menuntut penguasaan rumus atau teknik penyelesaian soal. Pembahasan diarahkan pada hakikat matematika, tujuan pembelajaran, cara berpikir matematis, serta posisi manusia dalam proses belajar. Pendekatan ini membuka ruang refleksi yang sebelumnya tidak ia temukan.
Melalui diskusi kelas, Mahasiswa X mulai memahami bahwa matematika bukan sekadar aktivitas menghitung, melainkan proses bernalar yang dapat dipelajari dan dilatih. Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses berpikir. Cara pandang ini perlahan mengurangi rasa takut dan membuka ruang untuk mencoba.
Perubahan tersebut tidak berlangsung secara instan. Namun, ada satu titik penting ketika Mahasiswa X menemukan arah belajarnya. Ia mulai lebih aktif dalam diskusi, berani menyampaikan pandangan, dan mengikuti perkuliahan dengan sikap yang lebih tenang. Proses belajar tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang pengembangan diri.
Yang berubah bukan semata kemampuan teknis matematikanya, tetapi cara ia memaknai belajar matematika. Ketika makna belajar mulai dipahami, motivasi pun tumbuh secara alami. Kepercayaan diri berkembang seiring dengan kesadaran bahwa belajar matematika adalah proses manusiawi yang memerlukan waktu, latihan, dan ketekunan.
Pengalaman Mahasiswa X menunjukkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari penguasaan materi. Bagi sebagian mahasiswa, yang lebih dibutuhkan adalah kejelasan arah belajar. Mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika memberikan pijakan berpikir yang memungkinkan mahasiswa menjalani pembelajaran matematika dengan lebih sadar dan bertanggung jawab.
Bagi saya, pengalaman ini menegaskan bahwa tugas pendidik tidak hanya menyampaikan konten, tetapi juga membantu mahasiswa menemukan orientasi belajarnya. Ketika arah belajar sudah jelas, proses akademik dapat dijalani dengan lebih tenang, konsisten, dan bermakna.[ahf]

Posting Komentar untuk "ARAH BELAJAR"
Posting Komentar