BEASISWA BERTUMBUH

 “Beasiswa adalah kepercayaan; dan setiap kepercayaan menuntut kesungguhan untuk bertumbuh”

fathani.com. – Tanggal 10 Januari 2025, di Hall Usman Mansur lantai 3 Universitas Islam Malang, kami membersamai mahasiswa penerima beasiswa dalam sebuah agenda pembinaan. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan kinerja dan prestasi mahasiswa beasiswa. Ada skema beasiswa KIP-Kuliah, Beasiswa Juara, Beasiswa OSC Medcom. Saya hadir lengkap bersama jajaran bidang kemahasiswaan dan para pengelola beasiswa di Universitas Islam Malang. Secara formal, kegiatan ini berbicara tentang pengembangan kapasitas diri, baik hard skill maupun soft skill. Namun di balik itu, yang ingin kami rawat sesungguhnya adalah kesadaran mahasiswa tentang proses bertumbuh sebagai pribadi.

Beasiswa, pada umumnya dipahami sebatas bantuan finansial. Beasiswa, biasanya akan dianggap selesai ketika biaya pendidikan terjamin. Padahal, sesungguhnya beasiswa adalah kepercayaan. Dan setiap kepercayaan selalu memanggil tanggung jawab: untuk belajar lebih sungguh-sungguh, bertumbuh lebih serius, dan menata diri lebih dalam. Beasiswa adalah amanah dari masyarakat; amanah dari institusi; amanah dari pemerintah; amanah dari negara.

Mahasiswa penerima beasiswa berada pada posisi yang tidak biasa. Mereka dipilih, didukung, dan diharapkan. Karena itu, pembinaan menjadi penting agar beasiswa tidak berhenti sebagai fasilitas, tetapi menjelma menjadi ruang pembentukan karakter dan kapasitas diri.

Dalam pembinaan ini, kami menegaskan bahwa kapasitas mahasiswa tidak hanya dibangun di ruang kelas. Prestasi akademik memang penting, tetapi dunia kehidupan menuntut lebih dari sekadar kecakapan intelektual. Ia menuntut kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengelola emosi, memimpin diri sendiri, dan memahami orang lain. Inilah wilayah soft skill yang sering luput dari perhatian, padahal justru sangat menentukan perjalanan setelah lulus.

Salah satu ikhtiar yang kami dorong adalah keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM). Di Universitas Islam Malang, terdapat 20 (dua puluh) UKM yang menjadi ruang belajar nonformal bagi mahasiswa. UKM bukan sekadar tempat menyalurkan minat dan bakat, tetapi lebih dari itu: laboratorium kehidupan. Di sanalah mahasiswa belajar disiplin tanpa paksaan, bertanggung jawab tanpa pengawasan ketat, serta menghadapi perbedaan dan konflik tanpa harus kehilangan arah.

Saya meyakini bahwa mahasiswa yang mau berproses —di kelas maupun di luar kelas—akan memiliki kedalaman yang berbeda. Mereka tidak hanya sibuk mengejar hasil, tetapi belajar menghargai proses. Mereka tidak sekadar bertanya apa yang diperoleh, tetapi mulai memikirkan apa yang bisa dikontribusikan.



Pembinaan mahasiswa beasiswa, karena itu, tidak cukup dilakukan sekali. Ia perlu hadir sebagai pengingat yang berulang bahwa kesempatan yang diterima harus dirawat dengan kesungguhan. Beasiswa bukan alasan untuk merasa aman, melainkan dorongan untuk terus menumbuhkan kapasitas diri.

Dalam perjumpaan ini, kami tidak bermaksud memberi ceramah panjang. Kami ingin mahasiswa berhenti sejenak dan merenung: sudah sejauhmana mereka memanfaatkan ruang belajar yang tersedia, sudah seberapa serius mereka mengembangkan potensi diri, dan sudah seberapa jujur mereka pada amanah yang diterima.

Kampus menyediakan banyak pintu. UKM adalah salah satunya. Namun keputusan untuk melangkah selalu berada di tangan mahasiswa. Pembinaan hanya bisa membuka kesadaran; selebihnya adalah pilihan personal yang akan menentukan arah perjalanan.

Alhasil, harapan kami sederhana namun mendalam. Mahasiswa penerima beasiswa tidak hanya lulus tepat waktu, tetapi tumbuh sebagai pribadi yang matang, percaya diri, dan siap memberi makna. Karena beasiswa sejatinya bukan tentang siapa yang dibantu, melainkan tentang siapa yang kelak mampu memberi dampak.

Dan, di situlah pembinaan menemukan maknanya: mendampingi mahasiswa agar pelan-pelan bertumbuh menjadi manusia yang utuh. [ahf]


Posting Komentar untuk "BEASISWA BERTUMBUH"