MASA LIBUR
“Tidak semua pembelajaran ada di ruang kelas, dan tidak semua pertumbuhan tercatat di transkrip nilai.”
fathani.com. – Libur semester selalu identik dengan jeda akademik. Perkuliahan berhenti, tugas berakhir, jadwal kosong, dan kampus menjadi lebih sepi. Bagi mahasiswa, libur biasanya dimaknai sebagai waktu istirahat: tidur lebih lama, pulang kampung, hiburan, jalan-jalan untuk melepas penat, dan tentu masih banyak aktivitas sejenisnya. Semua itu wajar, manusiawi, dan memang dibutuhkan. Tubuh dan pikiran perlu jeda.
Namun, di sisi lain, libur semester juga menyimpan peluang besar yang cenderung terlewatkan. Kampus memang libur secara akademik, tetapi proses pertumbuhan diri sejatinya tidak pernah libur. Di ruang inilah muncul perbedaan makna antara “libur” sebagai jeda fisik dan “libur” sebagai stagnasi mental.
Bagi sebagian mahasiswa, masa libur justru menjadi ruang bertumbuh. Mereka aktif di organisasi kemahasiswaan (ormawa): DPM, BEM, UKM, himaprodi, atau sejenisnya. Aktif untuk melaksanakan program kerja yng sudah dirancang dengan baik. Ada yang mengikuti pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, riset kecil-kecilan, pengabdian masyarakat, kelas pengembangan soft skill, atau membangun jejaring. Aktivitas-aktivitas seperti ini, tentuk akan dapat membentuk karakter, mentalitas, dan kepribadian.
Faktanya, tidak sedikit mahasiswa yang memaknai libur secara literal: libur ya libur. Tidak ada aktivitas pengembangan diri, tidak ada proses refleksi, tidak ada upaya belajar baru. Waktu berjalan, hari berganti, tetapi diri tetap di tempat yang sama. Libur menjadi ruang kosong yang hanya terisi oleh rutinitas tanpa makna.
Di sinilah pentingnya kesadaran mahasiswa tentang makna waktu. Waktu bukan hanya soal jadwal, tetapi soal arah hidup. Libur bukan sekadar berhenti dari kelas, tetapi kesempatan membangun kualitas diri. Kuliah membangun kapasitas akademik, tetapi aktivitas non-akademik membentuk kematangan sosial, emosional, dan kepemimpinan.
Mahasiswa unggul bukan hanya yang cerdas di kelas, tetapi yang sadar mengelola ruang hidupnya. Mereka memahami bahwa IPK adalah bagian dari perjalanan, bukan keseluruhan identitas. Bahwa ijazah adalah alat, bukan tujuan. Bahwa kampus adalah ruang tumbuh, bukan sekadar tempat belajar formal.
Libur semester seharusnya menjadi ruang refleksi: siapa saya, sedang tumbuh ke arah mana, dan kapasitas apa yang sedang saya bangun. Sebab, masa depan tidak dibentuk hanya oleh semester aktif, tetapi juga oleh bagaimana seseorang mengelola masa jedanya.
Alhasil, kuliah memang bisa libur. Perkuliahan bisa berhenti. Tetapi pertumbuhan diri seharusnya tidak pernah libur. [ahf]

Posting Komentar untuk "MASA LIBUR"
Posting Komentar