INTUISI LOGIS
"Pembelajaran matematika perlu memberi ruang bagi proses, bukan hanya produk".
fathani.com. – Dalam proses pembelajaran matematika, intuisi sering dipahami secara keliru. Sebagian mahasiswa menganggap intuisi sebagai tebakan, sementara sebagian dosen memandangnya sebagai sesuatu yang tidak ilmiah. Dalam pengalaman saya mengajar, intuisi justru selalu hadir dalam proses berpikir matematis, meskipun sering tidak disadari dan jarang dibicarakan secara terbuka.
Saya mendapati bahwa sebelum mahasiswa mampu menuliskan langkah penyelesaian secara formal, mereka biasanya sudah memiliki gambaran awal tentang arah solusi. Gambaran ini belum tentu tepat, belum tentu lengkap, tetapi berfungsi sebagai titik awal berpikir. Pada tahap ini, mahasiswa belum bisa menjelaskan alasan secara runtut, namun mereka “merasakan” apakah suatu pendekatan masuk akal atau tidak.
Intuisi semacam ini bukan lawan dari logika. Intuisi justru bekerja bersama logika. Ia membantu mahasiswa memilih arah, sementara logika berperan memeriksa, memperbaiki, dan menegaskan kebenaran langkah-langkah yang diambil. Tanpa intuisi, mahasiswa sering terjebak pada prosedur yang panjang dan tidak efektif. Sebaliknya, tanpa logika, intuisi mudah mengarah pada kesimpulan yang keliru.
Dalam perkuliahan, saya sering menjumpai mahasiswa yang langsung bertanya tentang rumus yang harus digunakan, tanpa terlebih dahulu memikirkan struktur masalahnya. Hal ini menunjukkan bahwa intuisi mereka belum terlatih. Mereka terbiasa bergantung pada prosedur, bukan pada pemahaman situasi matematis. Padahal, intuisi logis justru tumbuh ketika mahasiswa diberi ruang untuk memikirkan masalah sebelum diberi solusi formal.
Pengalaman membimbing mahasiswa dalam pemecahan masalah dan penulisan skripsi memperlihatkan bahwa intuisi logis berkembang seiring dengan kebiasaan berpikir. Mahasiswa yang terbiasa menjelaskan alasan, memeriksa kembali langkahnya, dan menerima koreksi cenderung memiliki intuisi yang lebih terarah. Intuisi mereka tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dibangun melalui proses belajar yang berulang dan konsisten.
Dalam konteks evaluasi, intuisi logis sering tidak mendapatkan tempat. Penilaian lebih banyak menekankan jawaban akhir dan ketepatan prosedur. Akibatnya, mahasiswa kurang terdorong untuk mengembangkan perkiraan awal atau penalaran informal. Padahal, kemampuan memperkirakan dan menilai kewajaran hasil merupakan bagian penting dari berpikir matematis.
Bagi saya, pembelajaran matematika di perguruan tinggi perlu memberi ruang bagi intuisi logis untuk tumbuh. Dosen tidak perlu selalu menuntut jawaban yang langsung sempurna, tetapi dapat mengajak mahasiswa membahas bagaimana suatu ide awal muncul dan bagaimana ide tersebut diuji secara logis. Dengan cara ini, mahasiswa belajar bahwa berpikir matematis adalah proses yang melibatkan dugaan awal, pengujian, dan perbaikan.
Intuisi logis bukan sesuatu yang bertentangan dengan ketelitian ilmiah. Ia adalah bagian dari proses berpikir yang membantu mahasiswa bergerak dari pemahaman awal menuju penalaran yang lebih formal dan bertanggung jawab. Ketika intuisi dan logika berjalan bersama, pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna dan lebih mendidik. [ahf]

Posting Komentar untuk "INTUISI LOGIS"
Posting Komentar