PANGGILAN GURU
“Guru sejati tidak hanya mengajar ilmu, tetapi menghadirkan makna dalam setiap proses belajar”.
fathani.com. – Menjadi guru bukanlah pilihan yang sepenuhnya netral. Ada orang yang datang ke profesi ini karena kebutuhan, ada yang karena kebetulan, dan ada pula yang karena dorongan dari luar. Namun, seiring waktu, sebagian dari mereka akan sampai pada satu kesadaran penting: mengajar adalah panggilan.
Panggilan guru tidak selalu hadir dalam bentuk idealisme besar. Ia sering muncul secara perlahan, melalui rutinitas kelas, tatap mata mahasiswa, pertanyaan sederhana, atau kegelisahan ketika melihat peserta didik belum berkembang sebagaimana mestinya. Pada titik itulah seseorang mulai menyadari bahwa tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menemani proses menjadi manusia.
Dalam pengalaman membimbing mahasiswa pendidikan, saya sering melihat bahwa menjadi guru menuntut lebih dari sekadar penguasaan ilmu. Pengetahuan dapat dipelajari, metode dapat dilatih, tetapi kepedulian tidak bisa dipaksakan. Guru yang bekerja atas dasar panggilan akan tetap hadir meski proses belajar terasa melelahkan, tetap membimbing meski hasil belum tampak, dan tetap percaya pada potensi mahasiswa bahkan ketika mereka sendiri meragukan kemampuannya.
Panggilan guru juga berkaitan erat dengan kesediaan untuk terus bertumbuh. Dunia pendidikan berubah, karakter mahasiswa berubah, tantangan zaman pun semakin kompleks. Guru yang merasa terpanggil tidak berhenti belajar. Ia memperbarui cara berpikir, memperhalus pendekatan, dan memperdalam pemahaman tentang manusia yang ia didik. Dalam konteks ini, mengajar bukan aktivitas statis, melainkan proses refleksi yang terus-menerus.
Lebih jauh, panggilan guru mengandung dimensi moral yang kuat. Setiap kata, sikap, dan keputusan di kelas akan meninggalkan jejak dalam ingatan mahasiswa. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga memperlihatkan cara bersikap, cara berpikir, dan cara menghadapi perbedaan. Karena itu, panggilan guru menuntut kesadaran etis: bahwa mendidik berarti ikut membentuk masa depan orang lain.
Di tengah tuntutan administratif, kurikulum, dan target capaian, panggilan guru sering kali diuji. Ada kalanya semangat melemah, ada saatnya kelelahan datang lebih dulu daripada kepuasan. Namun, guru yang bekerja atas dasar panggilan akan kembali pada alasan awal mengapa ia memilih jalan ini: keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian.
Pada akhirnya, panggilan guru tidak selalu membuat pekerjaan menjadi mudah, tetapi menjadikannya bermakna. Ia memberi alasan untuk bertahan, alasan untuk peduli, dan alasan untuk terus berharap. Guru yang terpanggil mungkin tidak selalu sempurna, tetapi ia hadir dengan kesungguhan, dan dari sanalah pendidikan menemukan ruhnya.[ahf]

Posting Komentar untuk "PANGGILAN GURU"
Posting Komentar