RUANG BERTUMBUH

"UKM bukan ruang bagi mereka yang sudah siap, tetapi bagi mereka yang bersedia bertumbuh".

fathani.com. – Di Universitas Islam Malang, hingga tahun 2026 ini, terdapat dua puluh Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM). Ragamnya luas: keagamaan, seni, olahraga, kemanusiaan, kewirausahaan, keilmuan, hingga kebahasaan. Secara struktural, wadah itu lengkap. Ruang bertumbuh tersedia. Namun realitasnya, masih belum banyak mahasiswa — yang notabene generasi Z — yang memilih hadir dan berproses secara aktif di dalamnya.

Kenyataan ini justeru menimbulkan pertanyaan. Padahal UKM dirancang sebagai ruang pengembangan minat, bakat, dan kapasitas diri yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas perkuliahan. Di UKM, mahasiswa belajar bekerja sama, memimpin diri, mengelola konflik, menepati amanah, dan mengenali batas dirinya. Banyak nilai kehidupan justru tumbuh dari aktivitas yang dijalani di luar kurikulum formal. UKM menjadi wadah untuk mengembangkan soft skills yang tentu akan menjadi investasi kehidupan pasca lulus nanti.

Mahasiswa generasi Z tumbuh dalam dunia yang serba cepat dan personal. Mereka terbiasa memilih hal-hal yang memberi makna segera dan terasa manfaatnya. Aktivitas yang menuntut komitmen jangka panjang, kesabaran, dan proses yang tidak instan kadang dianggap melelahkan. UKM, dengan segala dinamika dan tuntutan kedewasaannya, tidak selalu menjadi pilihan yang menarik bagi mereka.

Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa datang ke kampus dengan orientasi yang sangat praktis: lulus tepat waktu, nilai aman, urusan selesai. Aktivitas tambahan dipandang sebagai beban, bukan sebagai peluang. Dalam konteks seperti ini, pembinaan mahasiswa memang tidak sederhana.

Namun tantangan ini tidak bisa dijawab dengan pendekatan paksaan. Mahasiswa hari ini tidak cukup digerakkan oleh instruksi. Mereka perlu diyakinkan melalui makna dan hikmah. UKM tidak bisa lagi sekadar diperkenalkan sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang belajar kehidupan.

Di sinilah peran pembina menjadi penting. Bukan sekadar mengatur program dan agenda, melainkan menghadirkan UKM sebagai ruang yang manusiawi. Ruang yang aman untuk belajar, termasuk aman untuk salah. Ruang yang memberi kesempatan mencoba, gagal, memperbaiki, dan tumbuh pelan-pelan.

Pembinaan yang efektif menuntut kehadiran. Kehadiran untuk mendengar, bukan hanya berbicara. Mahasiswa ingin merasa diterima sebelum diarahkan. Mereka perlu diyakinkan bahwa UKM bukan milik mereka yang sudah siap, tetapi milik siapa pun yang bersedia berproses.


Lalu mahasiswa seperti apa yang ingin kita tumbuhkan dari ruang ini?

Bukan mahasiswa yang selalu sibuk, tetapi mahasiswa yang sadar akan prosesnya. Bukan mahasiswa yang mengejar banyak aktivitas, tetapi mahasiswa yang belajar bertanggung jawab atas amanah yang diambil. Bukan mahasiswa yang sempurna, tetapi mahasiswa yang jujur pada keterbatasannya dan mau bertumbuh.

UKM sejatinya adalah kepercayaan kampus kepada mahasiswa. Ia adalah ruang yang disediakan agar mahasiswa belajar menjadi dewasa sebelum benar-benar masuk ke kehidupan yang lebih luas. Tidak semua mahasiswa harus berada di UKM, tetapi setiap mahasiswa perlu mengalami proses bertumbuh.

Ketika UKM dipahami sebagai ruang bertumbuh, bukan sekadar struktur organisasi, maka pembinaan tidak lagi sekadar mengisi kehadiran, tetapi menemani perjalanan. Dan di sanalah pendidikan kemahasiswaan menemukan maknanya yang paling sunyi, sekaligus paling dalam. [ahf]


Posting Komentar untuk "RUANG BERTUMBUH"