SEKOLAHNYA MANUSIA (CHATIB, 2019)

“Sekolah yang memanusiakan manusia akan selalu lebih penting daripada sekolah yang sekadar mengejar peringkat.”

fathani.com. – Di banyak ruang kelas, kecerdasan masih sering dipersempit menjadi angka. Nilai rapor, peringkat, dan skor ujian menjadi tolok ukur utama keberhasilan belajar. Anak-anak yang tidak menonjol secara akademik kerap dilabeli “kurang mampu”, seolah masa depan ditentukan oleh satu jenis kecerdasan saja. Dalam konteks inilah buku Sekolahnya Manusia karya Munif Chatib menemukan relevansinya.

Buku ini tidak sekadar berbicara tentang metode belajar alternatif, tetapi mengajukan kritik mendasar terhadap cara kita memandang manusia dalam pendidikan. Sekolah, menurut Munif Chatib, semestinya menjadi ruang tumbuh bagi potensi unik setiap anak, bukan pabrik yang menyeragamkan kecerdasan.

Berangkat dari teori Multiple Intelligences yang diperkenalkan Howard Gardner, buku ini menegaskan bahwa kecerdasan manusia bersifat majemuk. Ada kecerdasan linguistik, logika-matematika, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, visual-spasial, hingga naturalistik. Setiap anak membawa komposisi kecerdasan yang berbeda, dan tugas pendidikan adalah mengenali serta mengembangkannya.

Namun kekuatan utama buku ini bukan pada pengulangan teori Barat, melainkan pada upaya membumikan gagasan tersebut ke dalam praktik pendidikan di Indonesia. Munif Chatib menolak seleksi masuk sekolah berbasis tes akademik semata. Ia menawarkan pendekatan Multiple Intelligences Research (MIR), yakni pemetaan potensi anak tanpa stigma pintar atau bodoh. Anak diterima apa adanya, lalu sekolah menyesuaikan strategi pembelajarannya.

Di sinilah buku ini terasa menggugah. Sekolah tidak lagi menjadi tempat “menilai” anak, tetapi ruang untuk memahami mereka. Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman belajar yang beragam. Kelas tidak harus sunyi dan seragam; belajar bisa berlangsung melalui gerak, musik, diskusi, visual, maupun praktik langsung.

Gaya penulisan Sekolahnya Manusia cenderung populer dan komunikatif. Munif Chatib banyak menggunakan kisah, refleksi pengalaman lapangan, serta bahasa yang membumi. Buku ini terasa seperti percakapan panjang antara praktisi pendidikan dengan pembacanya. Karena itu, ia mudah diakses oleh guru, orang tua, mahasiswa pendidikan, bahkan pembaca umum yang peduli pada masa depan anak-anak.

Meski demikian, sebagai buku pendidikan, Sekolahnya Manusia tidak lepas dari keterbatasan. Pendekatan yang digunakan lebih bersifat inspiratif dan normatif ketimbang analitis-empiris. Pembaca yang mencari data penelitian kuantitatif atau pengujian statistik atas efektivitas pendekatan MI mungkin akan merasa kurang terpuaskan. Beberapa gagasan disampaikan dengan optimisme tinggi, seolah semua sekolah dapat dengan mudah mengadopsinya, tanpa membahas secara mendalam tantangan struktural seperti rasio guru-siswa, beban kurikulum, atau keterbatasan sarana.

Namun justru di situlah posisi buku ini menjadi jelas. Sekolahnya Manusia tidak dimaksudkan sebagai buku metodologi penelitian, melainkan sebagai teks kesadaran. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sekolah didirikan? Apakah untuk mengejar nilai, atau untuk menumbuhkan manusia?

Dalam konteks pendidikan Indonesia yang masih kuat dengan budaya ranking dan ujian, buku ini berfungsi sebagai cermin kritis. Ia mengingatkan bahwa banyak anak kehilangan rasa percaya diri bukan karena tidak cerdas, tetapi karena kecerdasannya tidak diakui. Lebih jauh, buku ini juga menyentuh dimensi moral pendidikan: bahwa menghargai perbedaan kecerdasan adalah bentuk keadilan.

Di era ketika algoritma dan kecerdasan buatan semakin menentukan arah hidup, pesan Sekolahnya Manusia justru terasa semakin relevan. Pendidikan masa depan tidak cukup hanya mencetak manusia yang cerdas secara akademik, tetapi manusia yang mengenal dirinya, mampu bekerja sama, berempati, dan menemukan makna dalam belajar.

Alhasil, Sekolahnya Manusia adalah seruan untuk mengembalikan ruh pendidikan. Sekolah bukanlah mesin seleksi sosial, melainkan taman tempat setiap anak tumbuh sesuai kodratnya. Buku ini layak dibaca bukan hanya oleh guru dan pengelola sekolah, tetapi oleh siapa pun yang percaya bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia.[ahf]



Identitas Buku:
Judul Buku        : Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia
Penulis            : Munif Chatib
Pengantar    : Hernowo
Penerbit        : KAIFA, Bandung
Cetakan        : 2009
Tebal            : xxiv + 188 Halaman
ISBN            : 978-979-1284-28-8

Posting Komentar untuk " SEKOLAHNYA MANUSIA (CHATIB, 2019)"